DOKUMEN TERBARU
Edukasi Kesehatan Mei 2022
Senin, 27 Juni 2022 17:28 WIB
Struktur Website
Senin, 27 Juni 2022 12:07 WIB
Sosialisasi DIGIBIKES
Minggu, 12 Juni 2022 08:40 WIB

Artikel YKKBI

Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik adalah sekelompok gangguan kesehatan yang terjadi secara bersamaan. Sindrom ini dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner, serangan jantung, diabetes tipe 2, dan stroke. Seseorang dikatakan menderita sindrom metabolik atau metabolic syndrome jika mengalami sedikitnya 3 dari 5 kondisi, yaitu hipertensi (tekanan darah tinggi), kadar HDL yang rendah (dislipidemia), kadar trigliserida tinggi, kadar gula darah tinggi atau prediabetes, dan obesitas dengan penumpukan lemak di perut. Sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit yang berat. Namun, perkembangan sindrom metabolik dapat dicegah dengan mengendalikan faktor-faktor yang menyebabkan 5 kondisi tersebut, yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat setiap hari.

Gejala Sindrom Metabolik

Seperti telah dijelaskan di atas, sindrom metabolik merupakan sekumpulan gangguan yang terjadi bersamaan. Oleh karena itu, gejala yang muncul adalah gejala dari kelima kondisi tersebut. Gejala-gejala tersebut meliputi:
• Perut buncit
• Sering merasa haus
• Frekuensi buang air kecil meningkat
• Tubuh mudah lelah
• Sakit kepala
• Pegal-pegal
• Sesak napas

Sering kali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sudah mengalami sindrom metabolik, karena gejalanya tidak muncul atau dianggap sesuatu yang biasa terjadi. Kapan harus ke dokter Periksakan tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah Anda secara berkala, meskipun tidak ada gejala hipertensi, kadar gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Jika Anda didiagnosis menderita salah satu dari ketiga kondisi tersebut, periksakan diri ke dokter secara rutin untuk memantau perkembangan penyakit dan mengevaluasi pengobatan, serta untuk mencegah munculnya komplikasi.

Kunjungi dokter gizi jika Anda merasa berat badan Anda tidak ideal dan perut terlihat buncit. Dokter gizi akan menyusun rencana pola makan dan olahraga yang harus Anda lakukan. Dokter juga mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah untuk memastikan kondisi Anda. Serangan jantung dan stroke merupakan komplikasi sindrom metabolik yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Segera ke IGD rumah sakit bila muncul gejala-gejala serangan jantung dan stroke, seperti:

• Kelemahan pada otot wajah atau tungkai secara tiba-tiba.
• Gangguan dalam berbicara dan memahami pembicaraan.
• Hilang keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh.
• Sakit kepala berat yang disertai muntah.
• Rasa seperti tertekan atau tertindih di dada, yang menyebar ke rahang, leher, dan punggung.
• Mual, heartburn, gangguan pencernaan, dan sakit perut.
• Keringat dingin.

Penyebab dan Faktor Risiko Sindrom Metabolik

Penyebab sindrom metabolik belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli menduga bahwa sindrom metabolik dipengaruhi oleh penurunan sensitivitas tubuh terhadap hormon insulin, yaitu hormon yang menurunkan kadar gula dalam darah. Pada kondisi ini, efektivitas hormon insulin jadi menurun. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang sindrom metabolik adalah:

• Pola makan tidak sehat dengan terlalu banyak makan makanan yang berlemak dan makanan manis.
• Tidak berolahraga secara rutin.
• Memiliki kebiasaan merokok.
• Bertambahnya usia.
• Memiliki keluarga dengan sindrom metabolik.

Diagnosis Sindrom Metabolik

Dokter akan memulai pemeriksaan dengan menanyakan gejala yang dialami pasien, misalnya gejala gula darah tinggi atau tekanan darah tinggi. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan menimbang berat badan, mengukur lingkar pinggang dan tekanan darah pasien, serta menjalankan tes darah untuk memastikan diagnosis. Seseorang dapat dikatakan menderita sindrom metabolik bila memiliki sedikitnya 3 dari 5 kriteria berikut:

• Lingkar pinggang yang besar, yaitu lebih dari 90 cm pada pria dan lebih dari 80 cm pada wanita.
• Kadar HDL atau ‘kolesterol baik’ dalam darah kurang dari 50 mg/dL.
• Kadar trigliserida dalam darah lebih dari 150 mg/dL.
• Tekanan darah yang konsisten di angka 140/90 mmHg atau lebih.
• Kadar gula darah puasa 100 mg/dL atau lebih tinggi.

Pengobatan Sindrom Metabolik

Karena sindrom metabolik merupakan suatu kelompok penyakit, maka metode pengobatannya adalah dengan mengobati masing-masing penyakit tersebut. Pengobatan ini dilakukan dengan tujuan untuk menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah.

Perubahan gaya hidup

Cara pertama untuk mengatasi sindrom metabolik adalah dengan menjalani gaya hidup sehat, misalnya dengan:

• Berolahraga ringan secara rutin, minimal 30 menit setiap hari.
• Menurunkan berat badan sampai mencapai berat badan ideal.
• Mengonsumsi makanan tinggi serat, seperti buah dan sayuran.
• Membatasi asupan garam, gula, lemak jenuh, dan minuman beralkohol.
• Menghentikan kebiasaan merokok.
• Mengelola stres dengan baik.

Obat-obatan

Jika perubahan gaya hidup tidak mampu mengatasi kondisi pasien, dokter akan meresepkan sejumlah obat, seperti:

• Obat diuretik, penghambat beta, atau obat ACE inhibitor untuk mengatasi tekanan darah tinggi.
• Obat golongan statin, misalnya atorvastatin, untuk mengatasi kolesterol tinggi.
• Obat penurun gula darah, seperti metformin.

Komplikasi Sindrom Metabolik

Penderita sindrom metabolik berisiko terserang komplikasi serius, seperti stroke dan penyakit jantung. Kedua komplikasi tersebut dipicu oleh proses aterosklerosis atau penumpukan plak di pembuluh darah. terosklerosis membuat pembuluh darah menyempit dan mengeras, hingga tersumbat.

Pencegahan Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik dapat dicegah dengan menjalani gaya hidup sehat sehari-hari. Hal-hal yang dapat dilakukan adalah:
• Berolahraga minimal 30 menit setiap hari.
• Mempertahankan berat badan ideal.
• Memperbanyak konsumsi buah dan sayur.
• Membatasi asupan garam dan lemak jenuh.
• Berhenti merokok.

Referensi
Wang, H. H., et al. (2020). Novel insights into the pathogenesis and management of the metabolic syndrome. Pediatric Gastroenterology, Hepatology & Nutrition, 23(3), pp. 189.
Al-Qawasmeh, R. & Tayyem, R. (2018). Dietary and Lifestyle Risk Factors and Metabolic Syndrome: Literature Review. Current Research in Nutrition and Food Science, 6(3), pp. 594-608.
Rochlani, et al. (2017). Metabolic Syndrome: Pathophysiology, Management, and Modulation by Natural Compounds. Therapeutic Advances in Cardiovascular Disease, 11(8), pp. 215-225.
American Heart Association (2021). About Metabolic Syndrome.
National Health Service UK (2019). Health A to Z. Metabolic Syndrome.
National Institute of Health (2022). National Heart, Lung, and Blood Institute. Metabolic Syndrome.
Mayo Clinic (2021). Diseases & Conditions. Metabolic Syndrome

Call Center
icon-map Emergency

Di Luar Jam Kerja

icon-map Reimbursement

Jam 07:15 - 16.15 WIB

Senin - Jumat

icon-map Call Center AdMedika
icon-map Pendaftaran Klinik

Jam 07:15 - 16.15 WIB

Senin - Jumat

icon-map Pendaftaran MCU Klinik

Jam 07:15 - 16.15 WIB

Senin - Jumat

icon-map Pendaftaran Klinik

Jam 07:15 - 16.15 WIB

Senin - Jumat

icon-map Emergency Klinik

Jam 07:15 - 16.15 WIB

Senin - Jumat